Formula Baru untuk Usaha Pangan (Agus Pakpahan)

Diterbitkan Jumat, 24 Februari 2012, 09:17:20
Kategori: Artikel
 

Pemikiran bahwa untuk mengatasi krisis pangan nasional diperlukan investasi di
bidang pangan yang dimotori oleh perusahaan besar swasta, bahkan di dalamnya
juga termasuk perusahaan multi nasional memerlukan ketajaman pemikiran dan
kearif-bijaksanaan yang tinggi.

Alasan utamanya adalah jangan sampai sejarah kelam di bidang pertanahan
terulang dan akhirnya berbahaya bagi penca-paian cita-cita kemerdekaan, yaitu
NKRI yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sejarah mencatat datangnya perusahaan besar sebagai VOC, Tanam Paksa,
Onderneming Perusahaan Partikelir Perkebunan setelah Agrarischwet 1870
diberlakukan, sampai kondisi konflik perkebunan sekarang. Karena itu, datangnya
perusahaan besar di perdesaan ini harus membangun sistem ekonomi baru yang
menjadikan sistem hubungan antara perusahaan besar dan masyarakat ibarat
hubungan ikan dengan air.

Kita mulai dengan mengikuti sabda Nabi Muhammad SAW: “Tuntutlah ilmu sampai ke
Negeri China”. Pemerintah RRC menciptakan Household Responsibility System (HRS)
di mana negara memberikan hak kepada para petani untuk menggarap lahan negara,
sesuai dengan keampuannya.

Para petani dalam HRS, seolah menyewa lahan negara, maka membayar negara
sekitar 20 % dari hasil produksinya. Penerimaan dari petani sebanyak 20% inilah
yang menjadi sumber stok nasional pangan RRC.

Pemerintah RRC mengembang kan Township and Village Enterprises (TVE), sebagai
lembaga ekonomi perdesaan, sebagai wadah ekonomi petaninya juga. Yang menarik
untuk di simak adalah bahwa evolusi dari sistem komunal bukan ke pasar dan
bukan pula ke perusahaan besar, melainkan evolusi dari ekonomi masyarakat
petani itu sendiri. Hasilnya adalah RRC bukan hanya kuat dalam hal ketahanan
pangan nasionalnya, kita pun sudah mengimpor beras dari RRC.

Berkaca pada Barat

Sekarang kita ke Barat. Pertanian di Amerika Serikat (AS) dan di Uni Eropa,
walaupun basisnya pemikiran aliran pasar, subsidi pemerintah kepada petaninya
sangat besar. 30 tahun terakhir abad ke-20, terjadi perubahan besar dalam
sistem agribisnis AS yang melahirkan istilah Profesor Ikerd (2003) yang me
namakan kejadian tersebut sebagai “The Colonization of Rural America”.

Ikerd menyatakan bahwa solusi untuk perdesaan Amerika bukanlah menyerahkan
urusan kepada korporasi besar untuk dikolonisasi, tetapi memerdekakan diri
secara ekonomi dan mulai membangun kembali komunitas dari dalam secara
berkelanjutan secara ekonomi, ekologi, dan budaya.

Pemikiran Lkerd tersebut serupa dengan pandangan Aldrich Bloomquist , Ketua
Asosiasi Petani Gula Beet di North Dakota, yang mengambil alih salah satu
perusahaan gula terbesar di AS: US Crystal Sealing deadly court files:In the wake of continuing disclosures about General Motors’ failure to acknowledge critical construction safety issues related to faulty ignition switches, there’s a looming issue that has not been addressed: How litigation settlements negotiated by private parties can result in court-sanctioned cover-ups that endanger the public. Sugar Company, yang sudah terdaftar
di New York Stock Exchange tetapi mengalami kebangkrutan pada 1971.

Dengan hasil pemungutan suara yang dimenangkan oleh 70% anggota yang
menghendaki perusahaan tersebut dibeli, maka American Crystal Sugar Company
beralih menjadi milik koperasi petani, dengan harga US$86 juta, pada 15
Februari 1973.

Dalam tempo 4 tahun, luas area bertambah hampir dua kali lipat, mutu dan jumlah
bahan baku meningkat, dan produksi juga meningkat pesat. Industri selamat, dan
masyarakat juga meningkat kesejahteraan dan kerukunannya. Luas area yang
dikelola perusahaan dengan kelembagaan koperasi ini adalah lebih dari 200 ribu
hektare, merupakan perusahaan gula beet terbesar di AS.

Namun, sejalan dengan
perkembangan yang terjadi dengan American Crystal Sugar Company di atas,
perkembangan sistem agribisnis dunia, khususnya di Amerika Serikat, memang
sangat pesat pada 30 tahun terakhir abad ke-20.

Asosiasi Petani Jagung Amerika
(American Corn Growers Association) menyatakan bahwa harga jagung, kedelai, dan
beras di Amerika Serikat masing-masing menurun 3%, 5%, dan 1% dalam periode
1975/1979-1996/1999, walaupun pada saat yang bersamaan, indeks harga konsumen
untuk pangan meningkat 235 % (1982/84 =100).

Penyebabnya adalah konsentrasi kekuatan perusahaan yang secara dominan
menentukan perilaku pasar, khususnya terhadap petani (Heffernan et. al., 2002).
Selanjutnya, Adamopoulos (2006) dalam tulisannya “Land Inequality and the
Transition to Modern Growth”, menyatakan bahwa ketimpangan pemilikan lahan
merupakan penghambat industrialisasi.

Indonesia memiliki sejarah kelam mulai dari sejarah monopoli ekonomi rakyat
oleh VOC, Tanam Paksa oleh Pemerintah Belanda, hingga intervensi serta
kolonisasi daerah pedalaman dan perdesaan oleh perusahaan asing sejak Agraris
chwet 1870.

Ternyata, walaupun sudah hampir 1,5 abad perusahaan besar beroperasi
mengusahakan lahan, industri hilirnya juga belum terwujud dan masyarakat
perdesaan tetap masih banyak yang miskin dan usahataninya semakin menggurem.

Legacy sistem penguasaan lahan pada masa lalu itu bukan hanya menghambat
industrialisasi sebagaimana Adamopoulos sampaikan, membangun struktur oligopoli
sebagaimana Heffernan kemukakan, atau telah mengolonisasi perdesaan sebagaimana
Ikerd tunjukkan, ternyata juga tidak diterapkan di RRC yang telah menunjukkan
ketahanan pangan dan ekonominya meningkat pesat.

Karena itu, perlu pemikiran yang mendalam khususnya dalam mencari formula
hubungan perusahaan besarmasyarakat perdesaan dalam membangun ke tahanan pangan
nasional Indonesia. Jangan sampai sejarah terulang dan Indonesia dihadapkan
pada permasalahan yang makin sulit nanti (Agus Pakpahan)

 

 

Tinggalkan komentar

 

 

  • Peran Partai Poltik Untuk Siapa?

    Survey Kompas (14 Maret, 2011, halaman 5) memuat respon responden atas pertanyaan“Menurut Anda, lembaga apa yang paling efektif memerankan fungsi oposisi selama ini?”. Jawabannya media massa (42,50%), partai politik slot machines (19,60%), LSM (10,80%), Ormas (1,7%) dan tidak tahu (12,6%). Pertanyaannya mengapa peran partai politik kalah dengan media massa? Mari kita renungkan baik-baik jawabannya (Redaksi-kw)

  • Siapa Memikirkan Rakyat

    Survey Kompas (14 Maret, 2011) memuat respon responden atas pertanyaan

    “Apakah partai politik sudah efektif dalam menjalankan tugasnya membuat kebijakan negara agar tetap berpihak pada kebutuhan rakyat?”. Jawabannya 88,3 % mengatakan belum efektif.

    Lantas pertanyaannya adalah  siapa yang berfikir dan memikirkan untuk kepentingan rakyat? (Redaksi/kw)

  • Masalah Pengangguran

    Nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai sekitar 5 juta nasabah. Kalau saja setiap nasabah dapat menyerap 1 orang tenaga kerja, maka sama artinya telah mengurangi 5 juta pengangguran.
    Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut dapat diwujudkan? Kalau tidak, maka pertanyaannya untuk apa kira-kira KUR diberikan? Nampaknya perlu difikirkan secara seksama.

  • Masalah Akses Perbankan

    Menurut sata BPS (2006) dari kurang lebih 52 juta pengusaha, sekitar 98 % nya adalah pengusaha mikro,kecil dan menengah (UMKM)
    Dari jumlah tersebut baru sekitar 31 % atau sekitar telah memiliki akses pembiayaan Sfruttate quindi al meglio i
    casino online italiani italiani con bonus senza deposito e vi accorgerete di tutti i vantaggi dei quali potrete godere sfruttando al meglio il mondo dei casino online italiani online italiani legali. dari bank.

    Pertanyaannya adalah mengapa masih lebih banyak pelaku UMKM yang tidak dan belum dapat berhubungan dengan bank? Mudah-mudahan ada yang memikirkannya.