POLITIKA – Perjalanan aksi peduli dan doa untuk kedamaian negeri, napak tilas perjuangan para pahlawan dalam mendirikan republik Indonesia menginjak hari ke-26. Memperteguh tekad perjuangan mengawal Kemenangan Jokowi-Amin.

Sekretaris Gerakan Indonesia Satu, Abdul Salam Nur Ahmad, mengaku prihatin menyimak dinamika yang terjadi, pascapilpres selain dikagetkan dengan peristiwa 21-22 Mei, tiba tiba mengemuka sikap politik referendum yang disampaikan tokoh Aceh.

Reaksi kekecewaan atas kekalahan Prabowo-Sandi lalu diartikulasikan dengan pernyataan akan mengambil jalan referendum untuk rakyat Aceh. Menurut Abdul Salam, langkah itu ditenggarai akibat konflik elit.

“Elit politik belum legawa menerima kekalahan sehingga membuat bom waktu, menebar duri di masyarakat pendukungnya. Dalam politik sah-sah saja. Namun itu sangat berbahaya, akan menghancurkan NKRI, memporak-porandakan persatuan dan kesatuan Indonesia di bawah panji merah putih,” katanya.

Salah seorang penggerak reformasi 98 itu memandang, kejadian demi kejadian aksi skenario 21 – 22 Mei, aksi anarkistis, peradaran senjata ilegal, upaya pendeligitimasian KPU, Bawaslu, MK sampai upaya penggulingan pemerintah yang sah, akan membuat triger terbongkarnya rencana pembunuhan tokoh nasional. Itu merupakan fakta-fakta yang tidak bisa dibantah.

Menurutnya perencanaan yang sitematis diperkuat lagi setelah gagal dalam aksi berdarah 21-22 Mei, melakukan manuver dengan memunculkan isu Referendum. “Semakin jelas tidak hanya persoalan pilpres saja tapi ada upaya tangan tangan kotor dan misterius yang akan memecah belah rakyat dengan goal politiknya memecah belah NKRI,” ujarnya.

Isu referendum sengaja dilontarkan untuk ditangkap oleh situasi masyarakat yang sudah diprovokasi ditanamkan kebencian pada pemerintah untuk memberontak memisahkan diri dari NKRI.

“Para pahlawan, para aulia, para ulama dan para pendiri bangsa melihat Indonesia kekinian akan menangis melihat kondisi rakyatnya yang terombang ambing korban elite yang kecewa, rakyat diprovokasi, didoktrin ditanamkan kebencian dan akhirnya dipecah-belah, diprovokasi untuk memisahkan diri dari NKRI,” katanya.

Sebaiknya para elit politik cepat mawas diri, kendalikan diri jangan hanyut dalam amarah angkara murka sehingga mengorbankan persatuan dan kebersamaan rakyat Indonesia yang sudah terjalin, juga akan mengorbankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Nauzubillah jangan sampai Indonesia terkoyak koyak, NKRI lululantah karena dendam kesumat ambisi kekuasaan, karena situasi kekacauan kisruhan Indonesia itu yang dintai dikehendaki asing yang tidak menghendaki Indonesia menjadi negara kuat, maju dan memimpin di pertaruang global” kata Abdul Salam Nur Ahmad.

Refleksi terfokus dan doa bersama itu dihadiri pula oleh Dede Heri S.IP (Ketua KPPSMI Jabar), Indra Permana S.AP (Kord.Nasional Jaringan Tokoh Simpul Masyarakat Desa), Igi Saputra (Ketua Kampung Literasi Haruman), Wahyu Hidayat (Forum Demokrasi Masyarakat Desa), Siti Ratna Maymunah S.Pd (Ketua Bersinar Centre), Ustaz Apep Sambas dan Ajengan Ipin Arifin (Pimpinan Majelis Zikir Nur Muhamad). (As SG)**