SOSBUD – Memaknai Ramadan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya membedah makna kemerdekaan bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945. Saat itu proklamasi kemerdekaan menggetarkan dunia pada bulan Ramadan.

“Kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia buah perjuangan Bung Karno bersama para ulama, para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan harta jiwa. Sebuah perjuangan totalitas didasari jiwa iklas rasa cinta tanah air dalam mengabdi untuk rakyat, bangsa dan negara,” ujar Ketua Komite Pergerakan Pemuda Santri dan Mahasiswa Indonesia (KPPSMI) Jabar, Dede Heri.

Dalam Aksi Peduli dan Doa Bersama hari ke-4 itu, Dede Heri memandang sebagai momentum tepat untuk menuai nilai totalitas perjuangan Bung Karno merebut kemerdekaan.

“Semestinya menjadi panutan bagi para elit politik, para politisi, dan kita semua dalam bekerja mengabdi untuk bangsa dan negara,” katanya Kamis (9/5/2019).

Perkembangan situasi politik pascapencoblosan pemilu pilpres yang memanas, kata Dede Heri, sangat memprihatinkan. Semestinya dihadapi dengan pikiran jernih, sikap bijaksana bukan sebaliknya disikapi dengan amarah, menyebar fitnah, memecah belah rakyat.

“Kalau kita berkaca pada jiwa pengorbanan Bung Karno dan para pahlawan dalam perjuangan memerdekakan Indonesia, semestinya diikuti para pemimpin, para politisi negeri ini. Bukannya yang ditampilkan sikap ambisi kekuasaan bukanya jiwa pengorbanan dan pengabdian yang iklas untuk bangsa dan negara,” kata Dede Heri.

Sekjen Gerakan Indonesia Satu, Abdul Salam Nur Ahmad mengatakan persatuan, kebersamaan sesama anak bangsa yang telah terjalin jangan dikorbankan. Siapa pun yang menang atau yang kalah dalam pilpres harus menerima dengan lapang dada sebagai hasil dari sebuah proses demokrasi.

Kemenangan atau kekalahan harus diakui sebuah takdir, ketentuan Allah yang tak bisa dihindari, dan harus dipetik hikmahnya.

Jiwa pengorbanan, kenegarawanan Bung Karno, kata Abdul Salam, harus menjadi contoh bagi kita. Negara, bangsa dan rakyat adalah segalanya. Pengabdian yang didasari rasa cinta tanah air.

Justru jangan sampai kalah dalam pilpres mengorbankan segalanya, mengorbankan kebersamaan persatuan sesama anak bangsa, janganlah diikuti peristiwa di negara-negara Timur Tengah yang porak poranda perang saudara, akibat pudarnya rasa cinta tanah air.

“Tidak adanya sikap kenegarawanan dan tidak ikhlasnya dalam berjuang dan mengabdi hanya demi kekuasaan semata bukan kekuasaan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara” kata Abdul Salam Nur Ahmad.