POLITIKA – Berlatar suasana kaki Gunung Guntur Kabupaten Garut, aksi peduli dan doa bersama dikumandangkan. Menghayati napak tilas perjuangan para ulama, para pahlawan, berzikir, bertasbih untuk keselamatan dan kedamaian bangsa.

Ketua Kampung Literasi Haruman untuk Pencerahan Indonesia, Igi Saputra memandang ketegangan politik yang berlarut-larut akan berdampak buruk bagi keberlangsungan pembangunan bangsa. Semua pihak sejatinya duduk bersama rakyat.

People power untuk siapa? Isu gerakan people power hanya isu elit politik untuk menggerakan rakyat demi ambisi kekuasaan semata. Dengan gonjang-ganjing politik, pertikaian elit politik permusuhan sesama anak bangsa membuat rakyat semakin bingung. Rakyat hanya dimanfaatkan, dibelah, diadu domba untuk melakukan gerakan pendeligitimasian pemerintah yang sah,” katanya.

Menurut dia, saatnya rakyat berdaulat, mandiri memiliki sikap politik rakyat. Rakyat jangan selalu dimanfaatkan dieksploitasi oleh elit politik apalagi dimanfaatkan untuk melakukan gerakan penggulingan pemerintah syah, rakyat harus berani menolak.

Sekjen Gerakan Indonesia Satu, Abdul Salam Nur Ahmad, mewanti-wanti. Provokasi people power yang dilakukan elit politik, menurutnya, mengkhianati spirit perjuangan para pendiri bangsa Bung Karno, para ulama, para pahlawan yang telah berjuang dengan iklas mengorbankan jiwa dan raga untuk NKRI.

“Mereka yang semestinya menjaga NKRI, memperkuat persatuan, kebersamaan dan kedamaian negeri, malahan menyebar fitnah, provokasi dan memecah belah sesama anak bangsa,” kata Abdul Salam Nur Ahmad yang juga Tokoh Pergerakan Aktivis 98 itu.

Sedangkan Kordinaror Nasional Jaringan Tokoh Simpul Masyarakat Desa, Indra Permana S.AP, mengajak semua pihak memaknai bulan suci Ramadan dengan tepat.

“Dalam suasana bulan Ramadan ini mari kita satukan hati, bangun kebersamaan, wujudkan kedamaian. Kita yang ada bersama rakyat jangan terprovokasi dengan isu elit people power karena akan merusak kebersamaan sesama anak bangsa,” ujarnya.