Connect with us

EKBIS

Perlu Edukasi Migas Lebih Masif

|

Oleh: Siti Widharetno Mursalim

Migas dari dulu seolah-olah hanya miliki elit. Padahal tidak ada masyarakat yang terhidari dari isu migas. Bahkan kehidupan sehari-hari masyarakat sangat lekat dengan Migas.

Publik mungkin akan membicarakan migas jika sudah merasa ada kenaikan harga gas atau bensin. Padahal pembicaraan tentang migas harus menjadi sesuatu yang sangat familier dengan publik. Sebab pada faktanya tidak ada publik tidak tersentuh urusan migas.

Pentingnya edukasi tentang migas ini terungkap dalam kegiatan Seminar Migas Nasional yang diselenggarakan STIA LAN Bandung beberapa waktu lalu. Baik ketua STIA LAN Joni Dawud maupun pihak SKK Migas Haidar menyampaikan tentang pentingnya pemahaman migas bagi masyarakat.

Hal ini menjadi penting sebab kondisi objektifnya adalah saat ini cadangan migas nasional sudah jauh menurun. Fakta ini harus bisa menyadarkan publik termasuk juga pelaku industri untuk lebih melakukan penghematan terhadap penggunaan migas ini.

Sehingga secara umum, bangsa ini sebenarnya tidak bisa lagi mengandalkan migas lagi. Kalaupun ada negara kaya dan mereka mengandalkan hidup dari migas, maka mereka akan jatuh miskin, sebab yang namanya cadangan migas itu ada batasnya.

Belum lagi misalnya, persoalan yang timbul dari eksplorasi adalah kerusakan lingkungan. Persoalan ekosistem, karena di sana ada praktek alih fungsi. Karenanya, sektor migas ini harus dicermati lagi dalam perkembangannya saat ini.

Jika pun bangsa ini masih menjadikan sektor migas sebagai salah satu pendapatan negara, maka sebaiknya itu tidak dijadikan tulang punggung. Bukanlah sesuatu yang menjadi andalan utama. Sebab banyak hal yang sebenarnya masih bisa digali oleh negara untuk menghasilan negara.

Kemudian, dari sisi masyarakat, kita juga sebenarnya harus lebih peduli lagi dengan isu ini. Pada tingkat yang paling kecil, setiap masyarakat diharapkan dapat menjaga lingkungan dengan baik. Kita harus lebih hemat air, hemat, energi lainnya juga. Hal ini harus menjadi budaya kekinian, di tengah pertumbuhan penduduk yang terus melaju.

Termasuk bagaimanan juga bangsa ini dapat menemukan energi-energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, lebih murah, dan pro terhadap kemanusiaan. Sebab jika kita belum berubah, ketergantungan terhadap energi masih tinggi seperti sekarang ini, maka yang terjadi adalah impor besar-besaran.

Ketika Pertamina menjadi perusahaan migas andalan negara ini, kita pun akan melihat ini secara realistis. Sebab untuk menjalankan bisnis migas ini membutuhkan modal yang besar, teknologi canggih dan tenaga-tenaga profesional yang handal dan jumlahnya sangat banyak.

Sehingga dalam konteks ini, bagaimana kemudian pemerintah pusat dapat melakukan kerjasama yang nyata dengan Pemda-pemda untuk melakukan join dalam aspek migas ini. Sehingga nantinya, penghasilan dari bisnis migas ini bisa digunakan untuk pembangunan di daerah. Jadi jangan sampai pembangunan daerah itu hanya mengandalkan CSR nya dari perusahaan tersebut.

Tetapi lepas dari itu semua, kita tentu saja berharap bahwa dalam jangka panjang, bangsa ini akan tetap dapat memberikan layanan energi yang terbaik. Sementara pihak masyarakat kini juga membutuhkan edukasi sehingga mereka dapat melakukan sesuatu untuk penyelamatan cadangan migas, dan lingkungannya, demi kesejahteraan bersama.

Penulis adalah Dosen dan Ketua Business Incubator Center (Bicube) STIA Lembaga Administrasi Negara Bandung

Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Advertisement

Copyright © 2019 | MVP