E Rokajat Asura

Sebagai anak yang lama menjadi bungsu – adik saya lahir ketika saya kelas 6 – saya termasuk paling sering menjadi pelaku Tradisi Nganteuran saat bulan puasa.

Di kampung kami tradisi ini dilakukan saat hari lilikuran, saling mengirim penganan dan lauk-pauk. Berkeliling dari satu rumah ke rumah.

Saya melakukannya dengan riang gembira, bukan sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Terus terang saat itu saya belum paham.

Yang membuat saya semangat mengantar makanan kepada tetangga itu, selain bonus disebut ‘kasep’ dan ‘bageur’ adalah menebak-nebak apa isi wadah yang dibawa ke rumah sebagai timbal balik dari hantaran kami.

Dan entah kenapa saya saat itu tak berani membuka wadah atau rantang hantaran. Sehingga sepanjang jalan pulang harus puas dengan menebak-nebak.

Suatu hari saya dan Apa (bapak almarhum, semoga dilapangkan dalam kuburnya) dibuat tercengang. Setelah menghantarkan makanan ke sejumlah rumah, kami dibuat tercengang karena gule daging kiriman kami kembali jadi isi rantang balasan dengan kuah sedikit berkurang.

Padahal ke rumah tersebut hari itu kami mengirim pepes ikan. Balik Bandung, kata bapak. Mengirim gule daging ke keluarga A, jadi isi wadah balasan dari keluarga E.

Tradisi Nganteuran sekarang sudah nyaris punah. Tetapi setelah menerima foto yang diposting di wag Jabar Film Assosiation, kenangan itu sontak muncul dalam ingatan.