Bukan Sekadar Sepak Bola, Soekarno Cup 2026 Tutup Turnamen dengan Aksi Kemanusiaan untuk NTT

oleh -18 Dilihat

PIKIRKANRAKYAT.COM – Final Soekarno Cup 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara bagi talenta muda sepak bola Indonesia. Turnamen yang mempertemukan 400 pemain dari 16 provinsi tersebut juga ditutup dengan aksi gotong royong untuk membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dana kemanusiaan itu dihimpun melalui gerakan penggalangan solidaritas selama pelaksanaan Soekarno Cup 2026. Penyerahannya menjadi bagian dari rangkaian penutupan turnamen yang digelar di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (24/8/2026).

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, mengatakan aksi tersebut menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya berbicara mengenai pertandingan, kemenangan dan prestasi.

Menurutnya, Soekarno Cup sejak pertama digelar pada 2023 di Jakarta, kemudian 2025 di Bali dan 2026 di Jawa Timur, diarahkan untuk mencari bibit-bibit muda sepak bola dari berbagai daerah di Indonesia.

“Diikhtiarkan untuk mencari talenta muda akar rumput dari berbagai pelosok Tanah Air sekaligus membangun karakter generasi muda bahwa sepak bola harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Komarudin sebelum pertandingan final.

Final Soekarno Cup 2026 sendiri mempertemukan Banteng Jabar U-17 dengan Banteng Bali U-17. Sementara perebutan posisi ketiga mempertemukan Banteng Jatim U-17 melawan Banteng Papua U-17.

Komarudin menegaskan, penggalangan dana untuk korban gempa di NTT merupakan bagian dari semangat gotong royong yang ingin ditanamkan kepada para pemain muda.

“Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, nilai utama dari aksi tersebut bukan semata-mata berapa besar dana yang berhasil dikumpulkan. Lebih dari itu, terdapat pesan agar rasa senasib dan sepenanggungan terus tumbuh di kalangan generasi muda.

Sementara itu, Juru Bicara Soekarno Cup yang juga legenda Timnas Indonesia, Anang Maruf, mengatakan perpaduan antara pembinaan sepak bola dan kegiatan kemanusiaan memberikan pelajaran penting bagi para pemain.

Menurut Anang, 400 pemain dari 16 provinsi yang mengikuti turnamen tidak hanya membawa mimpi untuk menjadi pesepak bola profesional.

Mereka juga belajar mengenai tanggung jawab, persaudaraan serta kepedulian terhadap sesama.

“Anak-anak ini belajar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian,” kata Anang.

Ia menambahkan, sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan anak-anak muda dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda.

Para pemain yang datang dari 16 provinsi, kata dia, awalnya membawa identitas daerah masing-masing. Namun ketika berada di lapangan, mereka melebur menjadi satu sebagai bagian dari Indonesia.

“Dari 16 provinsi mereka datang sebagai anak-anak daerah, tetapi di lapangan mereka menjadi satu sebagai anak Indonesia. Semangat yang sama kemudian kita bawa keluar lapangan melalui aksi kemanusiaan ini,” ujarnya.

Anang menilai Soekarno Cup pada akhirnya bukan sekadar kompetisi sepak bola. Turnamen tersebut juga menjadi ruang pembentukan karakter generasi muda melalui nilai sportivitas, disiplin, persatuan dan kepedulian sosial.

“Kompetisi menjadi sarana bagi generasi muda untuk belajar tentang sportivitas, disiplin, persatuan, sekaligus kepedulian sosial,” pungkas Anang Maruf. (***)

No More Posts Available.

No more pages to load.