CIAMIS – Festival Layang Lakbok ke-6 tahun 2026 kembali digelar di hamparan pematang sawah Desa Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Mengusung semangat pelestarian budaya lokal, festival ini menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus upaya memperkuat identitas budaya Lakbok dan mengembangkan potensi wisata daerah.
Ketua Yayasan Masyarakat Pematang Sawah, Hermanto, mengatakan bahwa layang-layang Lakbok bukan sekadar permainan atau hiburan, melainkan simbol kebersamaan dan jati diri masyarakat setempat. Menurutnya, festival ini memiliki makna penting dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Rangkaian kegiatan festival dimulai pada 22 Oktober dengan tradisi babarit yang dilanjutkan pertunjukan kuda lumping. Pada 23 Oktober, pengunjung disuguhkan berbagai penampilan adat dan budaya. Sementara itu, 24 Oktober 2026 menjadi malam puncak perayaan yang menghadirkan kemeriahan festival di tengah suasana khas persawahan Lakbok.
Hermanto menegaskan, festival ini tidak hanya bertujuan mengenang budaya masa lalu, tetapi juga menjadi sarana menatap masa depan melalui penguatan persaudaraan dan kecintaan terhadap tanah kelahiran. Ia berharap Festival Layang Lakbok terus berkembang dengan melibatkan generasi muda, petani, seniman, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat. Selain melestarikan tradisi, festival ini diharapkan menjadi destinasi wisata yang mampu menghidupkan suasana daerah setelah musim panen.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Ciamis, Dr. Dian Budiana, menyebut Festival Layang Lakbok sebagai salah satu kegiatan unggulan yang memiliki kekhasan tersendiri di Kabupaten Ciamis. Ia mengajak masyarakat untuk bangga dan bersama-sama menjaga keberlangsungan festival tersebut. Menurutnya, budaya harus terus dipraktikkan agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan penyelenggaraan yang konsisten, Festival Layang Lakbok diharapkan semakin dikenal luas serta berkembang sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal, terutama melalui keunikan kegiatan di area persawahan pada malam hari.
Pewarta; Maman Nurjaman, S.M.






