Surat Terbuka Untuk Jokowi dan KH Ma’ruf Amin

Hajat demokrasi sudah berlalu. Agenda pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan reformasi birokrasi adalah buah hasil reformasi 1998. Perjuangan reformasi 98 adalah momentum Ilahiah yang sakral tumbangnya rezim Soeharto sang diktator orba yang telah banyak memakan korban.

Momentum Reformasi 98 terlahir hasil dari proses dialektika perjuangan tokoh tokoh aktivis pergerakan lintas generasi, angk 74 Malari, Hariman Siregar, pergerakan 77 – 78 dengan lantang melawan kediktatoran Soeaharto waktu itu, salah satu tokohnya Indro Cahyono dari kampus ITB menyuarakan perlawanan pada rezim Soeharto.

Dilanjutkan dengan mengader mahasiswa yang militan, melahirkan angkatan pergerakan angkatan era 80, salah satu peristiwa penting kejadian tragedi Tadris IAIN Bandung yang kala itu tentara masuk kampus, pasca itu menyatukan gerakan mahasiswa Bandung.

Tiada henti terus mengorbarkan perlawanan pada rezim Soeharto, tidak hanya gerakan mahasiswa saja, menyatu menyuarakan pembelaan pada kasus kasus ketidak adilan penggusuran perampasan tanah rakyat.

Tokoh yang tampil sebagai pejuang angkatan 80 – 90 baik di Bandung maupun Jakarta, suara perlawanan kala itu di Jakarta disuarakan oleh PijAR dengan tokoh tokohnya, Almarhum Amir Husain Daulay. Alm. Nuku Soelaiman dan Anto Kusumayuda (kasus SDSB, Soeharto Dalang Sgala Bencana) bersama tokoh lainnya memberikan suport spirit perlawanan pada perlawanan terhadap Soeharto di seluruh nusantara.

Perlawanan dan perjuangan melawan menumbangkan rezim disuarakan di Bandung dengan tokoh tokoh era 80 han, diantaranya Fajrul Rahman (ITB) Jumhur Hidayat (ITB), Amar (ITB), Cecep Kholiludin (IAIN BDG), Paskah Irianto, Anto Asya, Asep Kusmana alias Cusmin (Unpad), Andri, Pius (Aldera), Efendi Saman, Desmon (LBHN) dan banyak tokoh lainnya.

Perjuangan melawan rezim Soeharto terus didengungkan, tokoh pergerakan era 80 – 90 terus bergerak tanpa lelah mengkader, menyiapkan anak anak muda mahasiswa untuk mengelorakan perlawanan dari kampus ke kampus. Dengan lahirnya tokoh pergerakan era 98 di antaranya Trisno (Fikom Unpad) Almarhum Azwar Zulkarnaen alias Izul (Fikom Unpad), Juandi (Fikom Unpad), Eko Arief Nugroho (Fikom Unpad) dengan organ kampusnya KAU – Keluarga Aktivis Unpad, Aam Abdul Salam (IAIN Bandung) dengan organ gerakannya Alam IAIN, Ali Nurdin, Budi (Ikopin) dan banyak tokoh lainnya dengan membangun perlawanan dari kampus ke kampus, menggagas organisasi perlawanan mahasiswa dengan nama Front Indonesia Muda (FIM) Bandung.

Salah satu kejadian luar biasa adanya persatuan perlawanan membela Megawati waktu itu dizalimi oleh orde baru disingkirkan oleh kubu Suryadi merupakan boneka Soeharto.

Mahasiswa Jakarta dan Bandung paling depan membela PDI kubu Megawati. Sampai sahabat Juandi ditangkap ditahan di Terminal Cicaheum ketika digeledah ditasnya ditemukan stiker Megawati. Tidak hanya itu Aam Abdul Salam, aktivis IAIN Bandung melakukan aksi mogok makan untuk Megawati di Kantor Lama PDI di Jalam Soekarno Hatta Kota Bandung.

Tidak hentinya tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa 98 bersama dukungan dari tokoh tokoh aktivis lintas generasi era 74 malari. 77 -78, era 80-90 bersatu di front terdepan bersama aktivis pergerakan 98, menggelorakan api perlawanan di seluruh kota kota besar di Indonesia, Bandung, Jakarta, Surabaya, Jogja dan kota besar lainnya.

Akhirnya buah perjuangan panjang perlawanan sejak era 74 malari. 77 -78, era 80 – 90 dan era 98, Rezim Soeharto berhasil ditumbangkan tentunya berkat kesadaran kolektif kaum pergerakan pemuda mahasiswa bersatu bersama rakyat bergerak menumbangkan rezim Soeharto pada 21 Mei 1998.

Sekilas perjuangan pergerakan reformasi di atas kami sampaikan sebagai gambaran, bahwa momentum tumbangnya Soeharto – Reformasi 98 adalah buah proses dialektika panjang perjuangan kaum pergerakan era 74, 77 – 78, era 80 – 90 dan era Reformasi 98, sebagai hasil perjuangan bersama anak anak pergerakan Indonesia kala itu.

Dalam era paska reformasi harus diakui tampilnya Bapak Jokowi sebagai Presiden RI dan terpilih kembali menjadi pemenang Pilpres 2019 adalah buah dari Dialektika perjuangan reformasi, Pak Jokowi adalah anak yang lahir dari reformasi oleh karena itu amanah perjuangan reformasi harus benar benar dilaksanakan oleh Presiden terpilih periode 2019 – 2024.

Menyimak ingar-bingar, polemik, tuntutan, keinginan para elite politik yang ingin menjadi menteri di jajaran kabinet Bapak Jokowi – KH Ma’ruf Amin, itu wajar dan keinginan mereka. Namun dalam hal ini Bapak Jokowi dan KH Ma’ruf Amin harus tegas dan berani memilih jajaran kabinetnya yaitu “orang orang yang bersih dari korupsi, bukan pelanggar HAM dan bersih tidak ada hubungan dengan masa lalu yang kelam, atau bagian dari anasir orde baru”. “Orang yang punya integritas, militansi, progresif, mandiri, berkarakter. Bukan yang dibesarkan oleh nevotisme dan fasilitas.”

Kunci keberhasilan jalannya roda pemerintahan Jokowi bersama Bapak KH Ma’ruf Amin ke depan salah satunya adalah penentuan jajaran menteri kabinet yang loyal mengerti satu visi dengan Presiden serta menbumikan semua cita cita perjuangan agenda reformasi menuju Indonesia Unggul, Mandiri dan Sejahtera.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan atas perhatian Bapak Jokowi & KH Ma’ruf Amin. Kami ucapkan terimakasih sebesar besarnya.

Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maulana wani’man naayir

Bogor, Batu Tulis, 8 Juli 2919
Salam Hormat

PERHIMPUNAN PERGERAKAN JEJARING NASIONAL AKTIVIS 98 | GERAKAN INDONESIA SATU

Ketua Umum | ANTO KUSUMAYUDA

Sekretaris Jenderal | ABDUL SALAM NUR AHMAD, S.AG