TASIKMALAYA–Desa Linggamulya adalah satu dari 211 desa yang menggelar Pemilu Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Tasikmalaya. Secara administratif, desa ini menginduk ke Kecamatan Leuwisari.

Ada empat kontestan dalam Pilkades Linggamulya. Satu di antaranya membawa misi menciptakan agro wisata di Desa Linggamulya. Yaitu Farid Wajdi, calon Kades No. 2.

“Gini-gini juga, saya sudah berkali-kali melakukan pembekalan kepada para petani dalam hal budi daya kopi,” ujar Farid setengah bercanda, sekadar menegaskan bahwa dirinya bukan tanpa pengalaman.

Bagi Farid, kopi hanya salah satu jenis tanaman yang potensial dikembangkan di Desa Linggamulya, mengingat lokasinya di kaki bukit Gunung Galunggung. Tetapi kopi bukan satu-satunya. Tanaman lain juga bisa dikembangkan.

Farid Wajdi, calon Kades Linggamulya No. 2 melihat tanaman kopi milik warga.

Untuk mewujudkan misinya itu, tidak tanggung-tanggung, ia mengelilingi Desa Linggamulya dengan berjalan kaki. Bukan hanya pemukiman, melainkan juga pesawahan, sumber air, sampai ke tiap sudut desa.

Di sampling itu, Farid juga mengundang koleganya yang konsen di bisnis kopi. Yaitu Yanti, pemilik Kopi Tyan dan Kopi Sunda Perceka dari Bandung. Mereka membekali tim pemenangan No. 2 dengan pengetahuan seputar kopi, juga betapa potensialnya bisnis kopi.

Farid Wajdi didampingi Yanti memberi penerangan budi daya kopi kepada tim pemenangan calon Kades Linggamulya No. 2.

“Ke depan, kita perlu belajar bertani kopi dari hulu ke hilir. Dalam arti dari mulai menanan, merawat, memperlakukan, memanen, mengolah, menyeduh, hingga menikmati kopi dengan benar dan sehat,” lanjut Farid.

Di sisi lain, Yanti menginformasikan bahwa kopi itu menyehatkan. Aroma serta rasa kopi juga tergantung pada suasana hati penyeduhnya.

“Mari jangan bayangkan kopi sachet yang ada di warung-warung. Inilah kopi yang menyehatkan. Kopi asli, yang bahkan tanpa gula sekalipun rasa dan aromanya sudah nikmat,” ujar Yanti sambil menyeduh kopi.

Masalahnya, lanjut Yanti sedemikian jauh, kopi asli harganya mahal. Di kafe, satu gelas kopi paling murah sekitar Rp 12.000,-.

“Kenapa kopi mahal? Karena prosesnya panjang. Tingkat penyusutannya juga tinggi. Dari 1 kuintal kopi baru panen, paling jadi bubuk kopi sekitar 3 kg. Makanya, kalau bisa mengolah sendiri, masyarakat di sini bisa ngopi sehat dengan murah,” lanjutnya.

Amanat Yanti pada akhirnya, “Jangan sia-siakan Farid dan istrinya. Saya berguru kepada mereka berdua. Sampai sebesar ini, saya berutang banyak ilmu dari mereka.”