Pesta Babi dan Cermin Retak

oleh -79 Dilihat
oleh

Sebuah Ulasan Film

Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (2026) adalah tamparan keras bagi nalar pembangunan modern kita. Lewat durasi 95 menit, duet Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tidak sedang membuat dokumenter wisata, melainkan sebuah rekaman “tragedi ekologis dan genosida kultural” yang dibungkus rapi dalam jargon ramah lingkungan.

​Film ini menukik langsung pada kontradiksi yang brutal: ruang hidup Orang Asli Papua (OAP) dihancurkan demi kepentingan perut dan ambisi energi global. Atas nama Food Estate (ketahanan pangan) dan bioetanol (transisi energi hijau), ratusan alat berat merubuhkan hutan ulayat di Papua Selatan.

Judul “Pesta Babi” (Awon Atatbon) diambil dari ritual sakral Suku Muyu. Pesta babi adalah puncak keharmonisan hukum adat, ekonomi, dan spiritualitas mereka. Ketika hutan dibabat dan sagu diganti tebu, ritual ini mati. Suku-suku di Papua Selatan kehilangan bukan hanya tanah, tapi jangkar identitas mereka sebagai manusia.

Mengapa film ini mendalam dan menusuk? Setidaknya ada 3 alasan.

1. Pembalikan Narasi Slogan: Film ini berhasil membongkar kemunafikan istilah “pembangunan” di Merauke dan Boven Digoel, “HIJAU” bagi Jakarta ternyata berarti “GUNDUL” bagi Papua.
2. Sinematografi Kontras yang Brutal: Penonton disuguhi visual yang menyakitkan: kontras antara keintiman masyarakat adat yang merawat alam dengan keangkuhan ekskavator raksasa yang merobohkan pohon-pohon purba.
3. Suara Murni dari Akar Rumput: Tanpa perantara, OAP berbicara sendiri tentang kepunahan ruang hidup mereka. Narasi mereka jujur, emosional, dan tanpa pretensi politik, membuat gugatan mereka terasa sangat otentik.

Catatan Kritis

Secara visual, film ini terasa muram, sunyi, tetapi menghantam emosi. Kamera tidak banyak bermain dramatisasi berlebihan; justru kekuatan utamanya ada pada kesederhanaan gambar: hutan yang dibuka, wajah-wajah masyarakat adat, dan suasana kampung yang perlahan kehilangan ruang hidupnya. Narasi dibangun perlahan, namun semakin lama semakin menyesakkan. Penonton diajak melihat bagaimana tanah bukan hanya soal ekonomi, melainkan identitas, leluhur, dan harga diri masyarakat Papua.

​Secara sinematik, film ini adalah produk advokasi yang sangat berpihak. Beberapa kritikus menilai film ini mengambil sudut pandang yang sangat kontras (korporasi/negara sebagai pihak antagonis penuh dan masyarakat adat sebagai korban mutlak). Padahal, realitas sosial di Papua sangat kompleks. Ada juga sebagian masyarakat lokal yang berharap pembangunan infrastruktur (jalan, listrik, pendidikan, dan kesehatan) dari investasi tersebut dapat membawa mereka keluar dari isolasi ekonomi dan kemiskinan.

Kesimpulan.

​Pesta Babi adalah sebuah cermin retak yang dipasang di depan wajah pemerintah. Larangan nonton bareng (nobar) di berbagai daerah justru menjadi bukti sahih bahwa film ini berhasil menusuk titik paling sensitif dari politik agraria Indonesia. Film ini membuktikan bahwa kolonialisme belum usai; ia hanya berganti baju menjadi proyek strategis nasional.

Secara keseluruhan, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah dokumenter yang penting, berani, dan emosional. Ia memaksa penonton bertanya: pembangunan sebenarnya untuk siapa, dan siapa yang harus membayar harganya?

Singkatnya, film dokumenter ini bukan tontonan nyaman, ia seperti bau anyir yang sengaja dibiarkan tinggal di kepala penonton setelah layar gelap.

Lukman Nul Hakim

No More Posts Available.

No more pages to load.