Suatu pagi saya tertegun di pintu masuk klinik Yayasan Pulih. Beberapa wajah asing, tampaknya dari Timur Tengah dan Afrika sedang duduk, mengisi form dan menunggu jadwal konseling. “Mereka refugees (pengungsi) dari Afganistan dan Sudan mbak,” seorang kawan menjelaskan.

Siangnya saya berkesempatan mengobrol dengan psikolog yang menangani para refugees. “Mereka yang dikirim ke sini, umumnya memiliki problem psikologis yang berat mbak. Kemungkinan ada keterbatasan anggaran dari organisasi yang membantu mereka sehingga hanya kasus berat yang diprioritaskan untuk penanganan”. Kasus berat meliputi depresi, keinginan suicide (bunuh diri) hingga tindak kekerasan.

Refugees yang ditangani di sini, sebagian orang kaya di negaranya, sehingga mampu membayar agen. Mereka juga banyak orang-orang pintar. Status refugees tidak memperbolehkan bekerja atau bersekolah, padahal bisa bertahun-tahun sebelum diterima negara tujuan. Terlebih banyak negara seperti Kanada, Amerika, dan Australia sekarang sangat ketat, bahkan menutup pintu bagi refugees,” jelas kawan saya lagi.

Melihat beban penderitaan dan kekosongan hati yang dialami para pengungsi, membuat saya berpikir betapa beruntungnya tinggal dan hidup di Indonesia. Hanya tugas kita menjaga jangan sampai terjadi disintegrasi yang dapat membawa kerusakan dan konflik berkepanjangan. Doa yang perlu didaraskan, menghadapi keputusan tanggal 22 Mei. Semoga damai selalu beserta negeri ini.

Catatan Dian Indraswari