Connect with us

POLITIKA

Alasan Memilih Jokowi


Jika harus menyebutkan alasan pertama mengapa memilih Jokowi, bagi saya itu adalah Jokowi sendiri. Jokowi adalah Jokowi. Ia membawa tradisi baru ke dalam politik Indonesia. Ia adalah pemimpin yang otentik. Titik.

Sekarang mungkin Anda melihat pemimpin yang blusukan, menemui rakyat secara langsung, menyelesaikan problem rumit dan menahun secara cepat di lapangan, sebagai fenomena yang biasa saja. Banyak yang sudah melakukannya. Bahkan mungkin lebih baik daripada Jokowi sendiri—dengan berbagai improvisasinya. Tetapi, sebelum era Jokowi, semua itu merupakan sesuatu yang asing. Hampir tak pernah kita temui.

Justru itulah yang membuat Jokowi menjadi penting. Ia membawa angin baru dalam politik Indonesia yang cenderung otoriter dan elitis sejak lama. Ia mendobrak karakter feodal politik nusantara. Jokowi bergerak dari bawah. Ia memimpin dengan teladan. Tentu saja, Jokowi banyak kurangnya juga, tetapi sebagai pemimpin ia tak anti kritik. Jokowi bahkan siap untuk mengoreksi hal yang salah, bahkan jika itu datang dari dirinya sendiri. Itu kualitas yang mahal yang dimiliki seorang pemimpin sebuah bangsa.

Jika Anda merasa itu biasa saja, bahkan melihatnya sebagai cela, barangkali Anda harus banyak melihat negara di bawah pemimpin dengan karakter yang otoriter. Mengoreksi diri itu sesuatu yang besar. Di negara-negara anti-demokrasi, pemimpin bahkan tak tersentuh (untouchable). Jokowi anti-tesis dari semua itu. Ia bisa dikoreksi dan siap menerima masukan.

Anda boleh punya 1000 alasan untuk membantah argumen ini. Jokowi memang bukan superman dan tidak hebat dalam segal hal. Tetapi ia membawa sebuah tradisi bernegara yang penting. Dampaknya besar dan luas. Dari tradisi politik yang dekat dengan rakyat, birokrasi yang terbuka, elit negara yang dipaksa ‘down to earth’, kita melihat banyak progres: Mulai dari infrastruktur sampai kemajuan ekonomi. Kultur politik kita pun perlahan berubah.

Saya ingin membuat analogi seperti ini. Sekarang, kalau kita melihat teori Gravitasi milik Newton, mungkin itu biasa saja. Sederhana. Tak sehebat teori-teori fisika kuantum. Kalu kita melihat penemuan Thomas Alfa Edison, lampu atau telepon misalnya, memang tak secanggih pesawat ulang-alik atau mobil listrik Tesla yang dirangcang Elon Musk. Tetapi, tanpa teori Newton, kita tak akan sampai ke angkasa luar! Tanpa bola lampu atau telepon dari Edison, kita tak akan sampai ke abad internet dan mobil listrik.

Bagi saya, tanpa kehadiran Jokowi, juga tradisi politik yang dibawanya, kita tak akan melihat Indonesia yang sekarang. Jokowi mungkin tidak canggih. Tidak sangat pintar. Bahkan kadang cenderung lugu. Tetapi ia membawa sesuatu yang besar. Ia membawa sesuatu yang penting buat Indonesia.

Jika Anda perlu alasan mengapa memilih Jokowi? Mulailah dari Jokowi itu sendiri.

Tabik!

FAHD PAHDEPIE


Advertisement

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copyright © 2019 | MVP