Reorientasi Perjuangan Mahasiswa; Menjawab Tantangan Zaman

oleh -18 views

Ikhtisar Sejarah Perjuangan Mahasiswa; Pra-Revolusi Hingga Reformasi.

Mahasiswa adalah suatu Komunitas Intelektual yang memiliki berbagai keunikan atas potensi-potensi yang mereka miliki, Ia berlepas diri dari berbagai kepentingan Partai politik, Organisasi Masyarakat, dan atau Kepentingan Golongan tertentu, sehingga setiap gerak langkah Mereka masih Suci dikarenakan setiap tuntutan yang disuarakan oleh Mahasiswa berasal dari Proses kajian dan berbagai macam pertimbangan sebelum turun ke jalan.

Frasa “Idealis & Independen” tidak boleh dimaknai secara semberono, Idealis berarti bertindak berdasarkan pengalaman empiris serta memiliki keyakinan akan tercapainya tujuan, tanpa takut akan segala persoalan yang menghadang, Independen dapat dimaknai Bebas namun bukan berarti Ia tidak ditunggangi oleh Kepentingan, dalam hemat Saya bebas disini berarti Ia terbebas dari segala macam kepentingan yang bersifat Destruktif, Ia hanya ditunggangi oleh Satu kepentingan : Yaitu Kebenaran, serta Pembelaan atas Kaum tertindas dan termarjinalkan.

Sejarah Perjuangan Mahasiswa telah dimulai jauh sebelum Revolusi Indonesia dikumandangkan, tepatnya pada 20 Mei 1908 berdiri Organisasi Modern pertama yang bernama Boedi Oetomo yang didirikan oleh Mahasiswa lembaga pedidikan STOVIA.

Tak berhenti sampai disitu pada 1925 berdiri Indische Vereeninging yang dikemudian bermetamorfosa menjadi Perhimpunan Indonesia, dimana Gerakan tersebut dimotori oleh Mahasiswa yang sedang menempuh studi di Belanda, termasuk Mochammad Hatta sebagai Inisiatornya.

3 tahun setelahnya berdirilah Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia yang membawa semangat Persatuan sekaligus membidani lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, Gelombang perjuangan semakin membesar termasuk di Indonesia yang saat itu dibawah pengaruh Kolonilisme, dan pada puncaknya pada saat Revolusi 1945 peran Kaum muda-Mahasiswa begitu besar dimana Mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, serta mendesak Dwitunggal untuk segera Memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia.

Pasca Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Aliansi Kelompok Mahasiswa justru semakin marak walaupun Preferensi gerakan mereka terafiliasi pada Partai Politik tertentu, sebut saja Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memiliki kedekatan dengan Majelis Syuro Muslimin Indoensia (MASYUMI), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang memiliki kemesraan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) besutan Sang Proklamator, serta Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang merupakan Representasi Ummat Katolik di Kalangan Mahasiswa.

Kemudian pada 1965-1966 pada saat terjadi gejolak politik di Indonesia saat terjadi Percobaan Kudeta oleh PKI, namun gagal sehingga berdirilah Rezim Militer dibawah kendali Soeharto, andil Mahasiswa dalam transisi kekuasaan Orde lama menuju Orde baru begitu besar, Sebut saja Akbar Tanjung, Sofjan Wanandi, dan banyak Tokoh lain yang turut terlibat, yang kemudian populer dengan istilah “Angkatan 66”.

Memasuki dekade 1970, dimana pada 1972 terjadi seruan kolektif untuk tidak memilih (Golput) karena partai Golongan Karya (Golkar) dinilai Curang, Gerakan ini dimotori oleh Arief Budiman, Adnan Buyung Nasution, hingga Asmara Nababan.
Ditengah superioritas Rezim Militer Orde Baru justru tak membuat surut Aksi-aksi Mahasiswa dikarenakan terjadi beberapa penyelewengan yang dilakukan Soeharto, Polemik pendirian Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang banyak melakukan penggusuran, Kenaikan harga beras, Hingga protes besar-besaran menolak kedatangan Perdana Menter Jepang Kakuei Tanaka, hingga peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) yang menyebabkan Kerusuhan serta penjarahan.

Pada tahun 1977 adalah tahun dimana kalimat “Turunkan Soeharto” pertama kali terdengar, Aksi Mahasiswa mulai terdesentralisasi hingga ke Bandung, dan Surabaya, namun gagal sampai 1998.
Klimaks atas kemuakan Rakyat dan Mahasiswa terjadi pada 1998, Mahasiswa menuntut Reformasi dan penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), dimana Ribuan Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR bahkan Gelombang perlawanan Mahasiswa tersebut meluas hingga ke berbagai daerah Indonesia.

Lagi-lagi Mahasiswa menyumbang jasa yang tak kecil dalam proses Suksesi Kepemimpinan Nasional, dimana Rezim Orde Baru yang Otoriter serta Represif dan telah berkuasa selama 32 Tahun runtuh oleh Gerakan Mahasiswa yang ditandai pengunduran Soeharto secara resmi pada 21 Mei 1998, Era baru yang penuh dengan Harapan telah dimulai, dengan Habibie sebagai Wakil Presiden saat itu menahkodai bahtera bernama Indonesia.

Perjuangan Mahasiswa tidaklah mudah, tindakan represif Rezim dalam mempertahankan Kekuasaan telah merenggut Korban jiwa yang tak sedikit, dimana pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia begitu marak, dimana penculikan terhadap mereka yang Vokal menentang Pemerintah terjadi, bahkan hingga kini belum ada kejelasan, sehingga masih menjadi Dosa Pemerintah yang akan terus ditagih oleh Rakyat Indonesia.

Bias Gerakan di Era Milenium 3.

Taring gerakan Mahasiswa Pasca-Reformasi mulai tumpul, seiring dengan masuknya tokoh-tokoh Reformasi dalam lingkaran Kekuasaan, sehingga Kolektivisme Mahasiswa mulai terbelah menjadi Faksi-faksi yang membawa kepentingan Kelompoknya masing-masing.

Banyak faktor memang yang menyebabkan Stagnasi gerakan Mahasiswa, selain daripada perbedaan tujuan dari setiap elemen Mahasiswa juga kekeliruan dalam memaknai Common Enemy (Musuh Bersama), dimana sebelum Reformasi Rezim Orde Baru menjadi Musuh Bersama yang patut digulingkan, belum lagi Kelompok Mahasiswa yang mulai terjebak dalam konstalasi politik Nasional yang sarat kepentingan.

Beberapa Faktor tersebut menjadikan Bias Gerakan Kelompok-Kelompok Mahasiswa kini.
Taring Mahasiswa hanya tumpul bukan patah, karena faktanya masih banyak Aksi Mahasiswa yang menuntut Keadilan, serta tak sedikit Mahasiswa yang melek mengenai problematika Nasional yang ditandai dengan masih berkembangnya Forum-forum Kajian dan Diskusi Mahasiswa walaupun dalam Skala yang belum begitu besar.

Buktinya pada September kemarin gelombang perlawanan kembali digelorakan Kaum Mahasiswa melalui Aksi Akbar menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP yang dinilai mencederai semangat melawan korupsi serta terindikasi melemahkan KPK sebagai lembaga anti-rasuah.

Terpenjara Romantisme Masa Lalu.

Salah satu Faktor utama yang menyebabkan Tumpulnya Taring Mahasiswa adalah karena Mereka terlalu mengkultuskan perjuangan Senior mereka, sehingga menyebabkan mereka terpenjara dalam romantisme masa lalu, padahal permasalahan Bangsa ini masih menumpuk.

Belum lagi pola komunikasi yang mereka bangun cenderung elitis dan terlalu dekat dengan senior yang duduk dalam lingkaran Kekuasaan, Mereka mulai alergi terhadap keringat Masyarakat serta seakan tutup telinga saat ada keluhan Rakyat.

Sehingga tingkat kepercayaan Masyarakat terhadap Mahasiswa mulai memudar, hal ini justru membuka celah bagi Organisasi Masyarakat (Ormas) serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mengisi ruang-ruang kosong tersebut, padahal Kelompok seperti meraka sarat akan kepentingan Politis, tidak murni seperti Gerakan Mahasiswa.

Cara untuk meruntuhkan penjara Romantisme masa lalu adalah dengan membuka mata dengan lebar, betapa pelik permasalahan Negara tercinta ini, betapa banyak Rakyat yang menjerit membutuhkan pertolongan, Mahasiswa harus memperbanyak Referensi melalui Literasi.
Karena akan lebih Efektif apabila Kualitas Intelektual Mahasiswa kembali tajam, yang kemudian akan merangsang Kesadaran Individu, dan Melahirkan kesadaran Kolektif, Mahasiswa Harus Move On!

Kompleksitas Tantangan dan Renggangnya barisan.

Dunia bergerak begitu cepat, Sehingga siapapun yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tersingkir, Hal ini ditandai dengan adanya Globalisasi yang secara perlahan mulai menggerogoti Nilai-nilai Spirit perjuangan serta semangat Gotong royong yang memudar ditandai dengan maraknya sifat Individualis terutama dikalangan Mahasiswa, mereka mulai tidak peduli lagi terhadap berbagai persoalan yang terjadi, karena disibukkan dengan aktivitas kampus dan juga kegiatan destruktif lain yang menjadi penyeban utama Longgarnya Shaf.
Carut-marut ekonomi global yang disebabkan oleh perang dagang dua Negara Adidaya yakni Amerika Serikat dan Tiongkok juga berakibat pada stabilitas Ekonomi Nasional, yang secara tidak langsung menimbulkan keresahan dikalangan Mahasiswa sehingga sifat alamiah untuk mempertahankan diri mereka timbul, sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk memikirkan permasalahan orang lain, dan mereka mulai menarik diri dari segala Aktfitas-aktifitas Organisasi serta Forum-forum diskusi.

Bahkan Industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi yang melahirkan Sosial Media, dimana Mahasiswa kini telah di nina bobokan oleh Gadget, mereka lebih asyik berselancar di dunia maya dibadingkan harus menyelam dalam samudera kenyataan.

Renggangnya barisan perlawanan terhadap Ketidak adilan ini menyebabkan Gelombang tersebut hanya menjadi riak-riak yang belum cukup mampu menimbulkan Gelombang Tsunami Perubahan.

Tetapi, Sebagai kaum muda tentu kita tidak boleh berfikir Pesimis, karena bagaimanapun masih banyak Mahasiswa yang memiliki Kepekaan sosial, serta ketajaman analasis, sehingga tinggal menunggu waktu bagi riak-riak tadi bersatu membentuk gelombang yang akan meluluh lantakkan Ketidak Adilan, yang perlu Kita lakukan hanyalah terus mempersiapkan diri serta memperkokoh barisan dengan cara mengendurkan Ego Kelompok, maupun Individu, dengan membangun Narasi Kepentingan yang lebih besar demi terwujudnya Masyarakat Adil Makmur.

Re-Orientasi Perjuangan.

Setiap Gerakan Mahasiswa harus meninjau kembali Arah perjuangan mereka mau kemana?, Pemetaan tersebut adalah penting guna membangunkan kembali Superioritas Mahasiswa serta mengembalikan Peran & Fungsi Mahasiswa sebagai Agen Perubahan, Sehingga kepercayaan Masyarakat kepada Mahasiswa kembali pulih, dan Kerinduan akan Aksi heroik terobati.

Aksi tersebut jangan hanya dipersempit dengan Demonstrasi, karena banyak cara untuk serta berpartisipasi dalam membangun Negeri, mulai dari meningkatkan Kualitas diri dengan membaca buku, supaya minat baca dan budaya intelektual di Kalangan Mahasiswa kembali bergairah.

Kemudian dirikan dan Ikuti forum-forum kajian serta diskusi ilmiah di Lingkungan maupun luar Kampus, tidak peduli siapa dan organisasi apa yang mengadakan, selama hal tersebut menimbulkan efek positif serta mengandung nilai positif, maka tidak ada alasan untuk menarik diri.

Gunakan juga media sosial sebagai alat untuk mengajak Mahasiswa lain bergabung dalam barisan perjuangan, jangan hanya digunakan untuk merayu para adik tingkat, apalagi bergosip tentang hal yang tidak penting.

Saya percaya, bahwa Perubahan besar akan terjadi, dan Dunia Baru yang diliput Keadilan akan segera terbentuk, yang perlu Kita lakukan hanya satu; Mempersiapkan diri.

Bobby Septiana Irawan
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Unigal