SOSBUD – Mejelang 10 hari terakhir bulan Ramadan, semakin meneguhkan tokoh muda pergerakan melakukan aksi peduli dan doa untuk kedamaian negeri.

Kini sudah menginjak hari ke-22. Malam lailaitulkadar yang ditunggu-tunggu ummat Islam. Seyogyanya dijadikan malam refleksi, introspeksi, dan muhasabah para elit politik atas perjalanan negeri ini.

Apakah kita, para pemimpin negeri, elite politik sudah total dalam mengabdi dan berjuang untuk bangsa negara dan seluruh tumpah darah Indonesia?

Sekjen Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98, Abdul Salam Nur Ahmad, mengatakan semua pihak harus menahan diri.

“Sepuluh hari terakhir malam Ramadan kita jadikan malam refleksi dan evaluasi serta penyerahan diri secara total pada Allah atas perjalanan bangsa dan negara, semoga Allah memberikan ampunan atas berbagai kehilafan kita semua, para pemimpin negeri, para elite politik. Dengan berkah Ramadan menyatukan kita semua dalam satu tujuan untuk memajukan bangsa dan negara yang selalu dinaungi rahmat kebarokahan dari Allah Swt,” kata Sekjen Gerakan Indonesia Satu itu.

Dalam kesempatan yang sama Kordinator Nasional Jaringan Tokoh Simpul Masyarakat Desa, Indra Permana S.AP mengajak semua kalanhan selalu ingat amanah perjuangan para pahlawan, para pendiri bangsa, Soekarno-Hatta untuk melanjutkan perjuangan dan cita-citanya menjaga persaudaraan, persatuan untuk mewujudkan Indonesia maju, adil dan makmur.

“Jangan tercerai-berai, saling berkelahi, intu akan merugikan kita semua anak bangsa, ramadhan harus dijadikan perekat kebersamaan dan persaudaraan,” katanya.

Ketua KPPSMI Jabar, Dede Heri S.IP, menambahkan, pilpres telah usai. Kini saatnya mengawal proses demokrasi yang sedang berjalan.

“Kita kawal hasil proses demokrasi kontitusiona. Jokowi – Amin adalah hasil dari sebuah proses demokrasi dijamin konstitusi, rakyat telah mempercayakan Jokowi-Amin untuk memimpin bangsa dan negara ini periode 2019 – 2024,” katanya.

Dikuatkan Ketua Kampung Literasi Haruman untuk Pencerahan Indonesia, Igi Saputra. Menurut dia keberkahan malam laitulkadar, dimaknai dengan mengakhiri permusuhan sesama anak bangsa.

“Stop perpecahan, bangun kebersamaan, persaudaraan dan persatuan nasional. Semoga Allah selalu melindungi kita, seluruh anak negeri dalam naungan cahaya rahmat keberkahan,” ujarnya.