SOSBUD – Elemen aktivis menyuarakan pesan damai dari Tasikmalaya untuk Indonesia, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, (20/5/2019).

Mereka memandang perbedaan pilihan politik dalam kontestasi pilpres jangan dijadikan permusuhan, ajang balas dendam politik apalagi sampai menimbulkan korban pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Menurut Ketua Komite Pergerakan Pemuda Santri dan Mahasiswa Indonesia (KPPSMI) Jabar, Dede Heri, S.Ip, sikap penolakan hasil Pilpres yang dilakukan dalam bentuk aksi inkontitusional, menggerakkan massa melakukan people power yang berujung akan menggulingkan pemerintahan yang sah itu adalah perbuatan makar.

“Aksi yang inkontitusional, semestinya kalau ada kekecewaan atau merasa dirugikan silakan menggugat melalui jalur maknisme hukum salah satunya ke MK,” katanya.

Dia mengajak momentum Ramadan, menjadi ajang refleksi, evaluasi, muhasabah, dan penyerahan diri kita pada Allah atas berbagai hal yang terjadi.

“Oleh karena itu demi kepentingan untuk kepentingan bangsa dan negara, untuk kebersamaan rakyat, kami menyatakan sikap,” ujar Dede.

  1. Menolak aksi People Power karena akan mengakibatkan benturan di tengah masyarakat sesama anak bangsa dan people power adalah aksi inkontitusional dikatagorikan sebagai perbuatan makar.
  2. Menuntut Wali Kota/Wakil Wali Kota Tasikmalaya untuk mengimbau, agar masyarakat tidak berangkat ke Jakarta untuk mengikuti aksi 22 Mei 2019.
  3. Menyerukan pada seluruh rakyat Indonesia jangan mudah terprovokasi oleh isu negatif, isu people power, yang hanya akan merugikan masyarakat dan merugikan bangsa dan negara serta untuk keutuhan NKRI.