MEDIA – Hoaks alias kabar bohong tidak hanya ditemukan di media sosial. Bila mau sedikit cermat, hoaks juga berseliweran di media massa mainstream.

Hoaks jenis ini jauh lebih berbahaya. Diproduksi secara terencana, melibatkan lembaga resmi, memerlukan dana besar, dan yang paling parah adalah dampaknya.

Kabar bohong di media massa semacam ini cenderung lebih dipercaya publik. Dianggap lebih kredibel karena muncul di media resmi. Hanya kalangan praktisi media, atau mereka yang terlibat dalam “bisnis” ini yang memahaminya.

Berita semacam itu di kalangan media disebut sebagai native ads. Konten berbayar yang dikemas seolah berita. Ada pesan khusus yang ingin disampaikan si pemasang berita.

Berita itu seolah hasil laporan wartawan media yang bersangkutan. Padahal kontennya, bahkan biasanya berita utuhnya sudah dibuat oleh si pemasang native ads. Tinggal muat saja dengan tarif tertentu.

Native ads biasanya mainannya tim marketing. Tapi ada juga beberapa wartawan, bahkan petinggi media yang menjadi perantaranya.

Ada juga berita pesanan yang langsung ke wartawan dan redakturnya. Namanya secara resmi belum ada. Di kalangan wartawan disebut dengan berita “jale.” Sebuah kata dari bahasa Minang yang berarti “jelas,” ada 86-nya.

Berita model begini banyak tersebar di media massa mainstream. Sebelumnya yang banyak digunakan model advertorial, atau ada juga yang menyebutnya pariwara.

Berbeda dengan native ads, advertorial relatif lebih jujur. Dikemas persis seperti berita, namun di bagian atas atau di bawah berita ditulis keterangan advertorial, atau cukup dengan kode adv.

Ada juga yang sering disebut sebagai berita yang diplintir dan digoreng, atau diplintir sekaligus digoreng. Kalau perlu sampai gosong. Modusnya bermacam-macam. Namun dampaknya tetap saja sama.

Goreng-menggoreng berita, menjadi fenomena yang memprihatinkan dalam industri media di Indonesia. Teori tembok api fire wall yang membatasi independensi media dari kepentingan politik, apalagi bisnis, tampaknya sudah lama menghilang.

Benar tidak semua insan media sudah kehilangan idealisme. Ada yang mencoba tetap menjunjung tinggi independensi. Tapi mereka kalah dan harus tunduk kepada kepentingan manajemen dan pemilik.

Ada pemilik yang mencoba bersikap independen, tapi harus tunduk dan bertekuk lutut karena dihadapkan kepada realitas, agar tetap eksis media media membutuhkan pemasukan besar dari iklan.

[Hersubeno Arief]