Asep Budi Setiawan

Sahabat, sebuah proses belajar yang tidak lazim kerapkali ditunjukkan Dahlan Iskan (DI) kepada stafnya, dulu, di Jawa Pos. DI, yang biasa dipanggil Pak Bos, hampir setiap malam, kalau datang ke kantor bisa dipastikan berteriak kencang, disertai langkah kaki gesit, untuk membangunkan anak buahnya.

Maka tidak heran, yang terlena jadi melotot, yang nonton tv pura-pura sibuk dengan pekerjaan, yang sedang menelefon pun bisa langsung menyudahi pembicaraan.

Siti Nasyi’ah, penulis buku “Dahlan Juga Manusia, Pengalaman Pribadi Mengenal Dahlan Iskan”, termasuk beruntung bisa bersentuhan langsung dengan Pak Bos dibanding ratusan bahkan ribuan wartawan Jawa Pos Group.

Pelajaran langsung tidak menggunakan teori jurnalistik di ruang kelas. Ita, panggilan akrab Siti Nasyi’ah, sering diperintahkan duduk di kursi samping Pak Bos yang tengah mengedit berita untuk halaman satu. Proses belajar yang tidak menyenangkan.

Sebab DI termasuk temperamental, sangat emosional, dan penuh kemarahan. Bahkan, awalnya, Ita menganggap itu hukuman. Namun, akhirnya, justru ilmu yang diterima privat itu menjadi mutiara berharga.

Di mata DI, Ita merupakan tipikal wanita yang berpikir merdeka dan bertindak merdeka. DI mencontohkan, Ita menulis buku “Haji (Kok) Nunut dan Mamie Rose”, sebagai cerminan dalam berkarya, berpikir, dan berbuat. Sebab persoalan yang ditulis merupakan ranah sensitif.

Sebuah tulisan yang mengungkapkan betapa cerobohnya penyelenggaraan ibadah haji yang bisa kecolongan seseorang yang tidak berhak masuk pesawat sampai bisa terbang ke Jeddah dengan maksud untuk menunaikan haji tanpa bayar. Ita tidak memedulikan keamanan posisi pekerjaan ayahnya. Bahkan, kata DI, Ita juga cuek dengan keselamatan dirinya sendiri.

Mungkin DI benar, Ita bisa menjadi contoh bagaimana berpikir dan bertindak merdeka. Dalam konteks pekerjaan, Ita sangat bertanggung jawab. Ini sebagai wujud profesionalisme. Meskipun Ita agresif dalam setiap mengungkap peristiwa atau akan melakukan investigasi manakala ada ketidakadilan atau kesewenang-wenangan.

Bahkan DI sendiri, ketika menjadi menteri, tidak berdaya, saat mantan anak buahnya tersebut ingin menuliskan kenangannya selama menjadi anak buah DI, menjadi sahabat DI. Ita menjelma menjadi pengamat yang jeli dan berjarak. Bisa berpikir objektif. Oleh karena itu, materi tulisan tentang DI diserahkan sepenuhnya kepada Ita. Dia punya hak menuliskan apa saja, yang dia ketahui, dia alami.

Sahabat, Anda mungkin pernah juga membaca Catatan Harian Ahmad Wahib, “Pergolakan Pemikiran Islam”? Buku Wahib terkesan “garang”. Dia tipikal aktivis sejati: tajam bicara, kuat beragumen, namun bertanggung jawab terhadap yang dia sampaikan. Dalam bahasa yang lebih simpel, Ahmad Wahib adalah seorang muslim yang kritis dalam beragama.

Suatu hari, Wahib pernah mengkritik bahwa sebagian dari kita masih takut atau ragu-ragu untuk dengan tegas berusaha mencari ungkapan-ungkapan lahiriah yang baru dan relevan dengan gambaran dunia dan manusia zaman ini. Misalnya tentang dikotomi halal-haram, kafir-sejati. Ini, menurut Wahib, harus sesuai dengan konteks saat ini penafsirannya. “Saya pikir,” kata Wahib, “yang kita tuntut bukan sekadar reinterpretasi, tetapi suatu transformasi ide-ide Islam pada zaman yang sedang berjalan.”

Penafsiran ini menjadi pokok yang tidak terelakkan untuk eksistensi agama itu sendiri. Sehingga ide-ide kitab suci itu tertransformasi kepada pemeluknya: menjadi quran-quran hidup, alkitab-alkitab hidup yang membahagiakan sesama.

Bahkan Ahmad Wahib menyodorkan pemikiran dan visi tentang Tuhan yang benar. Ini akan mempermudah praktik hidup keagamaan yang sejati. Walaupun kita mengatakan diri kita seorang penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai Islam.

Oleh karena itu, dia melihat bahwa kedangkalan hidup beragama sangat dipengaruhi oleh keterbatasn visi tentang Tuhan. Iman pada Tuhan pun menjadi dangkal aplikasinya. Relasi dalam berkehidupan sosial harus menjadi pisau cukur untuk memangkas klaim-klaim beriman kepada Tuhan, khususnya kepada mereka yang beriman secara radikal. Bahwa beragama dan/atau beriman itu harus terlihat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam praksis hidupnya.

Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir membuka wacana tentang ketuhanan akan membantu manusia itu sendiri untuk memurnikan motivasinya menjadi pengikut Tuhan yang benar dengan cara yang benar.

Sahabat, buku bisa jadi dokumen tentang kemerdekaan pemikiran seseorang. Kemerdekaan bisa diartikan bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Seorang ulama mengatakan, bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain.

Belum merdeka jika masih ada ancaman, atau intimidasi satu pihak kepada pihak lain. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti “terbebas dari siksaan”.

Kemerdekaan berpikir bisa jadi terapi mengurangi berpikir instan. Soalnya budaya instan alias siap saji membuat manusia tidak lagi berpikir jangka panjang. Berbagai kebijakan negeri ini pun, menurut seorang teman, kerapkali terjebak pada budaya instan.

Model seperti ini amat berbahaya bagi masa depan bangsa. Cita-cita untuk mencerdaskan rakyat hanyalah angan-angan. Kita setuju secara teoretis bahwa pendidikan untuk memerdekakan. Tapi dalam tindakan, kita belum pernah sampai pada kesadaran bahwa pendidikan merupakan proses untuk menjadikan manusia berpikir merdeka, diikuti tindakan-tindakan.

Merdeka bukan berarti liar tanpa aturan atau tidak mau diatur.Berpikir merdeka membuat manusia memiliki daya nalar yang kritis serta mampu menentukan pilihan dalam hidupnya.

Dalam konteks globalisasi pilihan lebih banyak ditentukan oleh apa yang terlihat indera. Pilihan ini bukan digerakkan daya nalar yang sehat, melainkan hanya sekadar pemenuhan akan kebutuhan penyenangan inderawi belaka.

Media iklan yang begitu dahsyat, contohnya, seringkali membuat mata kita tidak lagi awas. Ini menciptakan mentalitas konsumtif. Fenomena ini sekarang membudaya dalam sanubari publik bangsa ini.

Hal ini terjadi karena manusia yang dihasilkan selama ini adalah sosok instan yang cenderung berpikir pendek dan sempit. Aura batin kita tak mampu menembus mata hati yang berkesadaran dalam menciptakan cara berpikir dan bertindak dalam kerangka kemanusiaan dan keadilan. Hal ini tak akan pernah menjadi gagasan dasar dalam membentuk perilaku bangsa. Bangsa ini juga kehilangan daya kreativitas karena miskin cita-cita dan gagasan.

Sahabat, merdeka adalah ketika kita tak dipusingkan lagi atas komentar-komentar orang mengenai diri kita. Merdeka adalah ketika kita tak terusik lagi karena perlakuan tidak baik atau yang tidak kita inginkan terjadi pada kita. Sehingga kesedihan bisa dihapus dari diri kita. Merdeka adalah ketika kita tidak direpotkan dengan target pencapaian kemakmuran duniawi.

Merdeka adalah ketika kita mampu melakukan segala sesuatu tanpa embel-embel harapan akan penghargaan dari orang lain. Merdeka adalah ketika kita tak sibuk mencari tahu mengenai kehidupan orang lain dalam konteks “memata-matai” sebagai bahan referensi menilai sikap orang lain.

Sahabat, merdeka, barangkali, ketika kita “bebas”: bukan sekadar berpikir “cangkang”, tetapi lebih esensial dan substantif. Semoga kita (lebih) mampu dan mau bertindak arif dan bijaksana!***